Author

Bionarasi

"Penulis lahir di Jakarta tahun 1974, hanya menyelesaikan sekolah sampai SMA di SMAN 38 Jakarta pada tahun 1992. Berkesenian sejak dari SMP, seperti mencorat-coret tembok dengan cat semprot, nongkrong di warung rokok untuk mempelajari seni kenikmatan merokok sambil ngopi, menulis surat izin palsu dan menulis beberapa surat cinta pada kakak kelas. Penulis pada saat ini mengajar gratis teknik penyutradaraan dan pembuatan film pendek di Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Hingga buku ini selesai dibuat, jumlah muridnya sudah tercatat ada lima orang. Cukup bagus daripada tidak ada sama sekali."

Penulis lahir di Jakarta tahun 1974, hanya menyelesaikan sekolah sampai SMA di SMAN 38 Jakarta pada tahun 1992. Berkesenian sejak dari SMP, seperti mencorat-coret tembok dengan cat semprot, nongkrong di warung rokok untuk mempelajari seni kenikmatan merokok sambil ngopi, menulis surat izin palsu dan menulis beberapa surat cinta pada kakak kelas. Penulis pada saat ini mengajar gratis teknik penyutradaraan dan pembuatan film pendek di Leuwiliang, Kabupaten Bogor. Hingga buku ini selesai dibuat, jumlah muridnya sudah tercatat ada lima orang. Cukup bagus daripada tidak ada sama sekali.
Latar belakang Penulis adalah Penata Artistik (Art Director) dari beberapa sinetron, terlibat dalam produksi lebih dari 15 judul sinetron dan beberapa Film Layar Lebar diantaranya, Eifel I’m in Love, Jomblo, dan FTV Sayekti dan Hanafi yang merupakan karya paling berkesan baginya, karena tim Penata Artistik FTV Sayekti dan Hanafi yang diproduksi pada tahun 2005 dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo itu masuk nominasi Penata Artistik terbaik Festival Film Indonesia dan Festival Sinetron Bandung, ketika masih bergabung dengan team Penata Artistik bersama Fauzie Suprapto.
Meski belajar menulis sudah dia lalui sejak Sekolah Dasar hingga tamat Sekolah Menengah Umum, tetap saja dia tidak pernah bisa menulis dengan baik dan rapi. Seringkali dia sendiri tidak mampu membaca apa yang dia tulis, maka betapa beruntungnya ketika pada tahun 90-an dia menemukan mesin tik di gudang, lama terabaikan. Namun, yang penting, dia tak perlu menulis lagi, dia hanya perlu mengetik. Siang malam mengetik hingga akhirnya diprotes orang satu rumah karena suara mesin tiknya sangat mengganggu. Dia produktif mengetik jika malam tiba. Terutama pada malam Minggu, supaya punya alibi menghindar dari tuduhan jomblo, alasan sibuk mengetik cerita. Banyak cerita yang sudah berhasil dibuat dan pada akhirnya kerja keras siang malam terus berkutat dengan mesin tik hingga tidak keluar dari kamar berhari-hari itu membuahkan hasil. Penulis pun bisa memiliki notebook pertamanya dari hasil menjual mesin tiknya pada kolektor barang antik ditambah honor yang dia dapat dari bekerja sebagai kuli bangunan. Berkat notebook ini dia bisa mendapatkan uang juga, dengan cara menjual notebook-nya.
Bad Liar adalah buku kedua yang ditulis oleh penulis setelah sebelumnya berhasil menerbitkan buku nikah, duet dengan seorang perempuan berinisial NI. Buku nikahnya kurang mendapat respons yang baik dari mertua karena kehidupan seniman dianggap terlalu mengandung plot twist dan kemungkinan sad ending itu sangat terbuka. Namun, penulis yakin jika mertuanya sekarang jengkel karena belum juga menemukan plot twist yang mereka duga bakal ada, dan semua cerita yang ditulisnya selalu happy ending. Karena buat apa susah? Susah itu tak ada gunanya. Bukankah semua orang berharap mendapat akhir hidup yang baik?
Penulis mungkin saja seorang yang tidak bisa berpura-pura. Tidak jago bohong seperti cerita Bad Liar yang direspons dengan baik oleh pembaca di Facebook. Namun, sejujurnya cerita Bad Liar ini fiksi saja, bukan tentang kehidupan Penulis. Apakah fiksi itu kebohongan? Bisa jadi. Apakah cerita Bad Liar itu cerita bohong? Belum tentu sebab kemungkinan besar orang menginginkan apa yang terjadi di cerita ini menjadi nyata.
Penulis tidak mau disebut penulis, dia hanya suka dituduh sebagai tukang celoteh. Hingga tulisan ini dibuat dia masih punya stok celotehan lainnya.

Select at least 2 products
to compare